My Jurney

Long Life Education

Tuesday, October 18, 2011

Pengelolaan PR (pekerjaan rumah) Matematika

Diantara kesepakatan penting ( Essential Agreement) yang saya bangun dengan peserta didik matematika saya pada setiap awal tahun ajaran baru maupun pada setiap awal semester, baik di kelas 7, 8 maupun kelas 9 SMP, adalah dengan mencoba memahami bersama bahwa matematika adalah pelajaran yang merupakan suatu mata pelajaran yang memerlukan pemikiran yang logis sehingga dalam mempelajarinya diperlukan strategi belajar yang tepat. Salah satu strategi belajar yang dimaksud adalah dengan memperbanyak latihan-latihan soal dengan frekuensi pengulangan materi yang harus diperbesar . Sehingga guru perlu memberikan tugas untuk latihan yang berupa tugas pekerjaan rumah (PR) .Sambil memperlancar bahasa Inggris kami (baik guru maupun peserta didik), dalam kesempatan-kesempatan tertentu saya selalu mengulang essensial agreement tersebut dalam bahasa Inggris yang saya sering lontarkan seperti ini :”Students (children), I’m not bored to always remind of you all, that there are three ways to be a good student : 1st pay attention when some one explain some important things, 2nd  make a good note, 3rd always repeat do exercises as soon as and as often as possible. Atas dasar itulah maka setiap kami selesai diskusi tentang dua kd atau lebih, maka selalu ada tugas yang dibawa ke rumah untuk mereka kerjakan sebagai bahan untuk latihan mapun pendalaman. Adapun jumlah soal dan dengan cara bagaimana mereka harus mengerjakan, juga adalah hasil kesepakatan. Apakah itu berupa tugas kelompok atau tugas individu.
Masalahnya adalah, bagaimana seorang guru harus mengelola hal tentang PR ini agar tujuan dari pemberian PR itu sendiri dapat tercapai dengan efektif dan tidak malah bersifat destruktif. Karena saya pernah ikut membimbing belajar matematika salah seorang keponakan yang masih duduk di Sekolah Dasar (SD), yang diberi PR oleh gurunya sangat banyak sehingga hampir membuat frustasi karena selain banyak, tingkat kesulitan nya pun tinggi. Ketika keesokkan sorenya saya tanya, bagaimana PR nya tadi di sekolah, dibahas ? ternyata menurut dia, gurunya hanya ngecek hasil akhir (jawaban) dari tiap soal tersebut dan tidak membahas bagaimana cara/langkah-langkah penyelesaian dari soal-soal tersebut . Sehingga jika ada peserta didik yang hanya menyalin jawabannya saja pun dari temannya, dan kebetulan jawabannya pun benar maka hal itu sudah dianggap tidak masalah lagi. Saya kira hal demikian agak bertentangan dengan tujuan kita para guru memberi PR matematika yang diantaranya adalah agar peserta didik terbiasa belajar di rumah untuk mendalami apa yang telah diperolehnya di sekolah,  menumbuhkan rasa tanggung jawab dan sikap positif terhadap mata pelajaran matematika, menumbuhkan sifat berani bertanya seandainya menemui kesulitan, baik kepada teman, orangtua maupun  guru. Apabila pemberian PR ini tidak dikelola dengan baik, salah-salah yang terjadi adalah : peserta didik putus asa (dengan banyak dan sulitnya PR), menyuburkan budaya menyalin dan nyontek pekerjaan teman (melatih ketidak jujuran), serta kemungkinan salah konsep atau missconception.
Dalam pemberian PR sebaiknya ada pengelolaan yang baik, mulai dari banyaknya soal dan tingkat kesulitan dari soal-soal tersebut, serta bagaimana cara peserta didik berusaha menyelesaikan soal-soal tersebut. Perlu diberikan pengertian pada para peserta didik bahwa pemberian soal-soal untuk dikerjakan di rumah sebagai PR adalah agar mereka menyempatkan belajar dan melakukan latihan serta pendalaman dari materi yang sudah didiskusikan di sekolah. Seandainya ada kesulitan boleh mereka diskusikan dengan cara belajar kelompok, dan apabila tidak tercapai solusi boleh juga bertanya setiap ada kesempatan pada guru. Saya sendiri tidak segan memberi nomor ponsel saya pada mereka dan sambil berseloroh saya sampaikan bahwa saya menerima layanan 24 jam, tetapi kalau tidak ada balasan mungkin saya sedang istirahat atau tidak ada pulsa he..he..Memang sekali waktu saya terbangun di pagi hari membaca dua buah sms dari nomor yang sama, yang pertama bertanya tentang soal matematika yang berikutnya bunyinya begini “Wah custumer service nya sudah tutup rupanya” he..he..saya lihat memang smsnya pada saat sudah cukup larut.
Hal lain yang perlu menjadi perhatian adalah pada saat menindak lanjuti hasil PR peserta didik, karena hal ini pun merupakan hal yang berpotensi untuk menjadikan bumerang dalam dunia pendidikan. Yang jelas perlu difikirkan bagaimana PR dibahas dan bisa membantu peserta didik yang masih mendapat kesulitan menyelesaikannya, tanpa membuang terlalu banyak waktu tetapi tetap ada perbedaan perlakuan bagi peserta didik yang tidak memperlihatkan usaha untuk menunaikan kewajiban menyelesaikan PR nya. Saya sendiri tidak memeriksa PR mereka orang per orang, sebab pasti akan terlalu menyita waktu, sejak awal saya sudah membangun kesepakatan dengan peserta didik saya bahwa ada hukuman yang akan saya berikan kepada mereka yang tidak mengerjakan PR karena lupa, ketinggalan dan alasan lain-lain yang nampaktidak logis. Dan agar tidak menyita waktu terlalu lama dengan harus memeriksa PR mereka, saya minta pada setiap tatap muka apabila ada yang tidak mengerjakan PR langsung ke depan laporan dan siap menerima hukuman. Cara demikian cukup efektif melatih kejujuran dan sikap konsekuen atau tanggungjawab peserta didik. Dan selanjutnya ditanyakan PR yang paling sulit, jika ada ditawarkan dulu pada peserta didik yang bisa menyelesaikannya untuk dapat mendemonstrasikan pekerjaannya di depan. Apabila tidak ada yang bisa baru saya sebagai gurunya akan turun tangan menjelaskan pada mereka semua. Untuk PR yang tidak terlalu sulit, saya memberi waktu pada peserta didik untuk memperlihatkan cara kerja mereka dengan bergiliran di depan teman-temannya, tapi itu nanti setelah kami mendiskusikan sub polok bahasan atau kd yang berikutnya. Jadi tidak ada waktu yang terbuang, sebab setelah diskusi kd yang baru kemudian mereka mencoba latihan-latihannya. Teman-temannya yang lain bisa bergilir mendemonstrasikan cara mereka menggarap PR yang tadi.
Dengan pengelolaan PR yang baik diharapkan peserta didik tidak putus asa atau frustasi dengan PR mereka tetapi sebaliknya enjoy dan bersemangat. Mereka juga terbiasa dengan latihan tanggung jawab dan kejujuran, selain itu mereka pun merasakan buah hasil dari ketekunan berlatih matematika. Karena menurut Vernon A.Magnesen bahwa kita belajar : 10% dari apa yang kita baca, 20% dari apa yang kita dengar, 30% dari apa yang kita lihat, 50% dari apa yang kita lihat sekaligus dengar, 70% dari apa yang kita katakan dan 90% dari apayang kita katakan sekaligus kita lakukan. (seperti yang dikutip oleh Bobbi DePorter, Mark Reardon, dan Sarah Singer Nourie dalam bukunya Quantum Teaching).
Demikian semoga dengan pengeloaan PR matematika yang baik, tidak ada lagi peserta didik yang makin sebal lagi atau bahkan frustasi mempelajari matematika.
.

Post a Comment