My Jurney

Long Life Education

Saturday, February 15, 2020

Peranan Guru di Era 4.0


Alhamdulillah, menjadi guru di era digital, menjadi tantangan tersendiri. Selain banyak kemudahan untuk mengembangkan diri dan meng up date diri, sebagai guru juga harus berupaya menjadi tauladan dalam menyikapi kemajuan teknologi informasi termasuk berliterasi. Seperti yang pak DR.Uhar Suharsaputra pernah sampaikan dalam salahsatu artikel di blognya, bahwa:”Guru/Dosen merupakan profesi yang mendesain masa depan, dan upaya untuk lebih baik dalam menjalankan peran kependidikan merupakan proses tiada henti,”.  Demikian pun di era digital ini, peran kependidikan seorang guru menjadi tantangan tersendiri.
Seperti kita tau informasi demikian cepat terhantar kepada peserta didik kita di era digital ini. Sehingga mereka mengalami percepatan perkembangan dalam hal pengetahuan, wawasan, keterampilan  atau bahkan mungkin mengalami kerusakkan lebih dini. Naudzubillah, nah disinilah mungkin, seperti yang pernah disampaikan Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan kita, bahwa peranan  guru sangat dibutuhkan dalam memberi tauladan, bimbingan dan dorongan. Sepertinya falsaah pendidikan yang beliau lontarkan berlaku di segala jaman. Demikian pun halnya dalam menghadapi era digital ini. Kita sebagai guru harus mampu berperan agar mereka peserta didik kita tetap aman ditengah belantara dunia internet yang kadang menyesatkan.
Sebagai guru, adakah yang sudah kita lakukan di Era Digital ini? Jika kita hanya duduk diam, tidak berupaya meng update diri, bisa jadi kita tertinggal jauh, bahkan oleh peserta didik kita. Mereka belajar computer dan tehnik jaringan, dunia internet dan lain-lain-lainnya, namun gurunya, ada yang bahkan menghidupkan computer pun tidak paham. Semuanya hanya karena memperturutkan kata hati, yaitu “MALAS”. Padahal sekarang ini banyak penawaran pelatihan guru oleh para pegiat literasi, agar guru tidak gagap teknologi dan gagap literasi. Baik itu yang berupa pelatihan online via grup WA, maupun pelatihan ofline. Mungkin memang kita harus banyak berkorban, baik itu waktu, tenaga maupun financial. Namun semua itu memang nilai yang layak diperjuangkan dengan segala hasilnya, demi kemajuan pemikiran dan sikap seorang guru yang imbasnya adalah pada kemajuan perkembangan prestasi peserta didiknya. Seperti yang penulis alami, di usia penulis yang tidak muda lagi saat itu, tiba-tiba sekolah tempat dimana penulis menunaikan tugas sebagai guru dan pendidik, ditunjuk sebagai RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional). Tentu saja ini melalui tahapan-tahapan seleksi yang mekanismenya sudah diatur oleh Permen saat itu.
Tentu saja hal itu berimbas pada tuntutan kompetensi kami para guru dan tenaga administrasi. Terutama kami para guru MIPA, dituntut untuk menguasai keterampilan computer dan keterampilan bahasa Inggris. Untungnya pimpinan kami saat itu cukup tanggap dan segera ambil langkah-langkah strategis. Seperti mendatangkan ahli computer dari salahsatu SMK untuk melatih dan meningkatkan kompetensi keterampilan computer tenaga pendidik dan kependidikan di sekolah kami. Memberi kesempatan kami untuk membeli laptop dengan cara diangsur. Kemudian  mendatangkan guru bahasa Ingris dari tempat kursus bahasa yang terpercaya, juga untuk menambah muatan bahasa Inggris kami. Bahkan kami pernah dikirim ke Kampung Inggris Pare di Kediri.
Saya khususnya, merasa bersyukur telah mendapat kesempatan untuk mendapat berbagai pelatihan yang diiniasi fihak sekolah untuk meng-up grade kami agar siap menjadi tenaga professional sesuai tuntutan sebuah RSBI. Walaupun cukup berat bagi kami sebab ada juga pro dan kontra yang mewarnai keberadaan program RSBI, baik itu dari masyarakat awam maupun dari kaum elit politik negeri. Namun penulis berusaha tetap dapat berfikir positif dan melakukan langkah-langkah positif sebagai wujud rasa syukur mendapatkan semua kesempatan ini, dibalik segala tantangannya yang cukup melelahkan juga sebetulnya. Dengan segala fasilitas yang penulis peroleh sebagai bekal untuk menjadi tenaga pendidik di RSBI, penulis mendapat kesempatan untuk dapat mengenal dunia internet lebih cepat ketika itu.
Dengan kesadaran yang tinggi dalam menjawab kebutuhan untuk senantiasa menambah ilmu, penulis mulai sering berselancar, blogwalking, dan bertemu para blogger kawakan, khususnya blogger di bidang pendidikan. Seperti, Bapak Akhmad Sudrajat, Bu Sri Rahayu, Pak Amin Hers, Bapak Dr. Uhar, dan lain-lain. Sampai akhirnya penulis pun memberanikan diri membuat blog pada tahun 2010, yang bertajuk :”Masih Ada”. Dalam pemikiran penulis saat itu, ingin membuat blog seperti yang dibuat oleh Pak Akhmad Sudrajat, namun karena keterbatasan penulis yang belajar secara otodidak, jadilah blognya hanya sebatas blog sederhana seperti itu.
Mendapat masukkan dari siswa alumni sekolah kami, penulis pun menambah pengalaman dengan membuat akun di Slide Share, sebagai sarana untuk bisa berbagi di dunia maya. Selain memuat materi pelajaran matematika untuk bahan mengajar yang dibuat penulis, juga memuat tugas-tugas hasil belajar siswa. Alhamdulillah tugas yang dibuat oleh siswa kami ternyata cukup banyak dikunjungi para pencari ilmu, bahkan banyak diunduh. Hal ini terlihat dari data pengunjung dan pengunduh yang melengkapi aplikasi Slide Share. Tentu saja hal ini membesarkan hati penulis. Hasil karya digital penulis dan juga para siswa terabadikan, baik dalam blog maupun dalam akun slide share penulis. Hanya penulis belum mencoba membuat video yang diunggah dalam Chanel Youtube, mungkin dalam waktu dekat segera penulis coba membuatnya. Sudah ada permintaan dari pengunjung blog penulis di gurusiana ketika penulis memposting Cara Membuat Kue Bakpia.
Demikian, sekilas pengalaman penulis sebagai guru dalam menyikapi era digital. Semoga bermanfaat dan memotivasi guru-guru muda untuk dapat berbuat lebih lagi, demi kemajuan pendidikan Indonesia di era kemajuan teknologi komunikasi ini.


Tentang Penulis
Lilis Yuningsih, S.Pd., M.M,  kepala SMPN Satap 1 Lelea, kecamatan Lelea, kabupaten Indramayu. Pernah mendapat tugas menjadi kepala sekolah DPK di SMP IT Mutiara Irsyady Pekandangan Jaya Indramayu. Di sekolahnya ini penulis sempat menyelenggarakan workshop Pelatihan Menulis Bagi Guru, walau dari target 125 peserta baru berhasil mengumpulkan 65 orang peserta saja. Mendirikan Komunitas Literasi Dermayu bersama rekan-rekannya sesama pegiat literasi di Indramayu. Akun facebooknya Lidip Wachyu Dinatapura dan Deep Yudha. Juga mempunyai blog deepyudha.blogspot.com  yang bertajuk Masih Ada. Selain mengajar juga punya jadwal On Air di Radio Cinde FM Indramayu mengasuh acara Obrolan Hati (Obati) yaitu tiap Rabu malam jam 20.00-22.00. Saat mengajar matematika di SMPN 2 Sindang yang input siswanya luar biasa, penulis menghimpun tugas-tugas kekinian dari siswanya untuk diunggah diblognya juga di akun slidesharenya. Akun slideshare itu  adalah :
Pernah mengikuti pelatihan menulis yang diselenggarakan Media Guru, Majalah Guneman dan menghasilkan buku tunggal  yang berjudul “Goeroe” dan beberapa buku antologi hasil kerjasama dengan para penulis pemula lainnya. Buku-buku itu diantaranya : Rekam Jejak Literasi (kerjasama para guru penulis yang terhimpun dalam Kreasi ,Penggerak Literasi asuhan bu Rina Sugiarti), Kumpulan puisi bertema ibu berjudul “Bidadari Dunia”, Kumpulan Cerita Anak bagian 1, Jangan Pernah Berhenti Mengajar (arahan mba Nenny Ma’mun), buku Ayah Bunda dan buku My Trip My Book. Juga buku kumpulan Puisi yang dipersembahkan untuk almarhum Pak Hernowo Kasim.
Penulis bisa dihubungi via email yuningsihlilis@gmail.com , WA 085 63 481 5 381, 085224223574, 087717866652.