Peranan Guru Matematika Sebagai Motivator Terhadap Minat Belajar Matematika Siswa

Sebetulnya saya masih punya PR untuk menyelesaikan postingan tentang  SOSIALISASI PERUBAHAN IKLIM BAGI PETANI NELAYAN DAN MASYARAKAT UMUM MELALUI PROGRAM RADIO bagian berikutnya yang rencananya akan mengulas uraian nara sumber kedua, peneliti bidang kelautan dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Dr. Nani Hendarti, yang menyampaikan paparan peran teknologi dalam perubahan iklim, khususnya teknologi mitigasi dan adaptasi di wilayah pesisir pada workshop terkait yang saya hadiri waktu itu. Namun karena data-data penunjang yang saya miliki saya simpan dalam fd saya, kemudian fd kebetulan raib jadi saya belum dapat merealisasi rencana menyelesaikan PR saya tersebut .
Untuk itu pada kesempatan ini saya akan coba menyelesaikan rencana lain yang juga sempat tertunda yaitu menulis tentang peranan guru matematika sebagai motivator terhadap minat belajar matematika siswa. Seperti pernah saya tulis pada artikel terkait “Mengapa Pelajaran Matematika Kurang Disukai ? ” bahwa karakteristik matematika  yang sangat khas, menyebabkan siswa harus ”bekerja keras” untuk dapat melihat ”keindahan” atau ”daya tarik” nya. Bagi siswa yang kurang aktif atau bahkan malas tentu saja hal ini akan menyebabkan dia menjadi semakin tidak berminat lagi terhadap matematika. Disinilah peranan guru matematika diharapkan dapat menjadi motivator bagi para siswanya yang dapat membantu mereka mempercepat dapat melihat ”keindahan” atau ”daya tarik” matematika. Karena seperti yang saya tulis di beranda blog saya ini, ada kalimat bijak yang entah siapa yang mengungkapkannya pertama kali tapi yang jelas makna kalimat itu demikian dalam kebenaran maknanya. Kalimat bijak itu adalah :“Guru yang mengajar tanpa membangkitkan motivasi siswanya sama saja seperti pandai besi yang berusaha menempa besi dalam keadaan dingin”. Kita semua pasti setuju dengan ungkapan bijak tersebut.

Gage dan Berliner seperti yang dikutip Prof.DR.H. Abin Syamsudin Makmun, MA dalam bukunya :”Psikologi Kependidikan” antara lain menjelaskan bahwa seorang guru berperan, bertugas dan bertanggung jawab sebagai :


1.      Perencana yang harus mempersiapkan apa yang akan dilakukan didalam proses belajar mengajar.


2.      Pelaksana yang harus mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan rencana (H. Abin Syamsudin Makmun, 2001 :23 )


Selanjutnya pada bagian lain dalam buku yang sama Prof.DR.H. Abin Syamsudin Makmun, MA, mengutip pendapat Dollar dan Miller yang secara fundamental menegaskan bahwa keefektipan perilaku belajar siswa itu dipengaruhi oleh empat hal yaitu adanya :


1.      Motivasi


2.      Perhatian dan mengetahui sasaran/ tujuan belajar itu sendiri


3.      Usaha


4.      Evaluasi dan pemantapan hasil. (H. Abin Syamsudin Makmun, 2001 :23 )


Sedangkan Motivasi belajar menurut .DR.H. Abin Syamsudin Makmun, MA masih dalam buku yang sama adalah suatu ”Dorongan atau daya dalam diri individu untuk mencapai tujuan belajar”.


Menurut salahsatu teori belajar yaitu Teori Stimulus-Respon, penyebab seseorang belajar adalah agen-agen lingkungan yang bertindak terhadap individu yang menyebabkan individu itu memberikan respon. Dari beberapa prinsip yang melandasi teori belajar perilaku, prinsip yang paling penting ialah bahwa perilaku berubah menurut konsekuensi-konsekuensi langsung. Konsekuensi yang menyenangkan ”memperkuat” perilaku, sedangkan konsekuensi yang tidak menyenangkan ”melemahkan” perilaku. Konsekuensi menyenangkan pada umumnya disebut reinfonser, sedangkan konsekuensi yang tidak menyenangkan disebut punisher. Dalam bahasa Indonesia reinfonser berarti penghargaan dan punisher berarti hukuman/sanksi.


Prinsip lain yang tak kalah penting dalam teori belajar perilaku adalah ”kesegeraan” konsekuensi, bahwa konsekuensi yang segera mengikuti perilaku akan lebih mempengaruhi perilaku daripada konsekuensi-konsekuensi yang lambat datangnya. Misalnya pujian yang diberikan segera setelah siswa melakukan suatu pekerjaan dengan baik, dapat merupakan reinfonser yang lebih kuat daripada angka yang diberikan kemudian. Dari teori-teori belajar seperti yang telah diulas diatas dapat disimpulkan bahwa belajar akan lebih efektif dalam keadaan siswa senang. Agar terjadi hal seperti itu tentu guru sangat berperan sebagai motivator agar dapat sesegera mungkin memberikan reinfonser ketika siswa merespon positif dan aktif pada saat proses belajar mengajar, sebaliknya juga akan sesegera mungkin memberikan hukuman (funishment) kepada siswa yang nampak tidak merespon aktif atau mungkin sebaliknya terlalu aktif sehingga mengganggu teman-temannya. Tentu saja pemberian funishment ini bisa berupa hanya berupa teguran, nasihat ataupun sanksi lain yang sudah disepakati atau dibicarakan bersama sebelumnya bersama siswa pada awal tahun ajaran baru, pada saat  membicarakan essensial agreement (baca ,Essential Agreement)

Saya sendiri sebagai guru matematika yang sudah lama berkecimpung langsung di lapangan merasa mendapat tantangan tersendiri ketika merasakan betapa sulitnya memotivasi siswa saya untuk dapat menyukai mata pelajaran yang cukup tidak bersahabat popularitasnya di kalangan para peserta didik ini. Berbagai upaya, saya coba agar para siswa tertarik untuk mengenal lebih jauh mata pelajaran matematika sehingga dapat merasakan ”keindahannya” dan manfaatnya bagi kehidupan mereka kelak. Salahsatu upaya saya adalah mencoba berdialog dengan mereka tentang manfaat dan pentingnya matematika bagi kehidupan kita. Kemudian bersama-sama membuat kesepakatan penting tentang cara yang baik dalam memperoleh keberhasilan belajar matematika dan mencoba membicarakan agar mereka mengetahoi beberapa hal yang dapat menghambat atau mengganggu proses pencapaian tujuan keberhasilan belajar matematika. Setelah terjadi dialog disepakati bahwa syarat berhasil belajar matematika adalah, ketika proses belajar-mengajar berlangsung maka siswa harus : (1) Memperhatikan, (2) Menulis, (3) Banyak berlatih. Dan disepakati pula jika ada siswa yang tidak melaksanakan ke tiga hal tersebut maka harus ada yang selalu mengingatkannya.


Selain itu sebagai upaya lain dalam memotivasi mereka untuk menyukai belajar matematika, saya akan memberikan reward kepada siswa saya yang mendapat nilai 100 ketika test tertulis walau mungkin reward nya tidak seberapa jika dilihat dari harganya karena mungkin hanya berupa coklat yang dipastikan mereka sendiri dengan mudah dapat membelinya di kantin sekolah. Selain itu saya menjanjikan bahwa selain dari test tertulis, siswa dapat mengumpulkan nilai dengan cara menjawab pertanyaan atau soal yang diberikan guru pada saat kbm (kegiatan belajar mengajar), juga bisa mengerjakan tugas mandiri yang sekiranya dapat membantu proses belajar matematika mereka seperti membuat alat peraga ataupun alat bantu belajar yang inovatif, memperlihatkan catatannya yang lengkap, atau menandatangan kan latihan-latihan yang telah dikerjakannya secara mandiri. Dengan demikian saya merasakan betul bahwa mereka menjadi lebih semangat belajar matematika, itu dapat saya lihat dari sikap mereka yang mulai berlomba menandatangankan buku latihan yang memperlihatkan hasil pekerjaan mereka yang  melebihi  dari latihan yang sedang dibahas. Selain itu hasil evaluasi baik berupa test tertulis, lisan maupun penugasan nampak jauh lebih baik. Demikian semoga bermanfaat bagi rekan-rekan guru matematika yang masih muda agar dapat membangkitkan motivasi siswanya dalam belajar matematika dan membuat matematika menjadi mata pelajaran yang disukai dan menantang.


 

 



10 comments: